Secara garis besar, paedagogi adalah teori pembelajaran yang didesain untuk kebutuhan anak-anak sedangkan andragogi adalah teori pembelajaran yang didesain untuk kebutuhan orang dewasa dari segala usia. Untuk dapat memahaminya secara lebih lanjut maka kita dapat membahas perbedaan diantara paedagogi dan andragogi.
Menurut Malcome S. Knowles ada beberapa perbedaan di antara paedagogi da juga andragogi. Yang pertama adalah dalam hal sebutan pembelajar. Jika pembelajar pada paedagogi disebut “siswa” atau “anak didik, maka dalam andragogi disebut “peserta didik” atau “warga belajar”. Selanjutnya adalah dalam hal gaya belajarnya, jika dalam paedagogi gaya belajarnya adalah dependen atau masih memerlukan bantuan orang lain, maka dalam andragogi gaya belajarnya adalah independen di mana peserta didik diminta untuk dapat mandiri dalam pembelajaran, tidak seperti paedagogi yang masih harus bergantung dengan orang lain. Selanjutnya perbedaan lainnya adalah dalam hal tujuan pembelajaran, jika dalam paedagogi tujuan ditentukan sebelumnya maka dalam andragogi tujuannya fleksibel. Hal ini berkaitan dengan gaya belajar sebelumnya, pada paedagogi tujuan ditentukan karena gaya belajarnya dependen maka tujuan sudah pasti lebih dahulu ditentukan sehingga tujuan belajar dapat diikuti dan dicapai secara maksimal oleh peserta didik, begitu pula sebaliknya dengan andragogi, tujuan fleksibel karena pembelajar memiliki gaya belajar yang independen sehingga dapat menentukan sendiri bagaimana tujuan yang akan dicapainya.
Kemudian, jika pada paedagogi diasumsikan bahwa siswa tidak berpengalaman dan/atau kurang informasi, maka pada andragogi diasumsikan bahwa peserta didik memiliki pengalaman untuk berkontribusi. Hal ini dapat dipahami dengan melihat usia pembelajar. Kita sendiri mengetahi bahwa anak kecil masih memiliki pengalaman hidup yang jauh lebih sedikit dari orang dewasa sehingga mereka juga hanyak memiliki informasi yang sedikit bahkan terbilang kurang, sedangkan orang dewasa sudah menjalani kehidupan yang lebih lama dan dengan kata lain mereka juga sudah mengalami pengalaman yang lebih banyak lagi. Maka dari itu pantas saja jika pembelajar diasumsikan sedemikian rupa. Selanjutnya jika pada paedagogi menggunakan metode pelatihan pasif (seperti  metode kuliah atau ceramah), maka andragogi menggunakan metode pelatihan aktif. Hal ini berkaitan dengan pembahasan sebelumnya mengenai pengansumsian pembelajar. Pada paedagogi menggunakan metode pasif karena pengalaman yang mereka dapatkan masih sangat sedikit dan begitu pula dengan informasi yang mereka dapatkan sehingga pembelajaran akan lebih efektif apabila para pembelajar dapat memperkaya informasi yang mereka dapat terlebih dahulu. Sedangkan untuk andragogi yang mempunyai pengalaman yang relatif sangat banyak menggunakan metode aktif sehingga dapat mengaplikasikan informasi yang ia dapat sehingga informasi tersebut bukan hanya sekedar teori saja bagi para pembelajar.
Lalu, perbedaan lainnya adalah jika pada paedagogi guru mengontrol waktu dan kecepatan, maka pada andragogi pembelajar mempengaruhi waktu kecepatan. Hal ini sesuai dengan pembahasan sebelumnya mengenai gaya belajar. Karena gaya belajar pada paedagagogi adalah dependen atau memerlukan bantuan orang lain maka otomatis orang lain tersebut, dalam hal ini guru, yang menentukan waktu dan kecepatan pembelajar. Sedangkan pada andragogi yang sama halnya memiliki gaya belajar independepn yang tidak bergantung pada orang lain, pembelajar juga bebas untuk menentukan waktu dan kecepannya sendiri dalam pembelajaran. Perbedaan lainnya adalah jika pada paedagogi peserta berkonstribusi sedikit pengalaman maka pada andragogi keterlibatan atau kontribusi peserta sangat penting. Jika pada paedagogi belajar berpusat pada isi atau pengetahuan teoritis, maka pada andragogi belajar berpusat pada masalah kehidupan nyata. Terakhir, jika pada paedagogi guru adalah sumber utaa yang memberikan ide-ide dan contoh, maka pada andragogi peserta dianggap sebagai sumberdaya utama untuk ide-ide-ide dan contoh.

 
Pada rentang usia 3-4 sampai 5-6 tahun, anak mulai memasuki masa prasekolah yang merupakan masa kesiapan untuk memasuki pendidikan formal yang sebenarnya di sekolah dasar. Piaget berpendapat bahwa anak pada rentang usia ini termasuk ke dalam perkembangan berpikir praoperasional konkret. Pada saat ini sifat egosentris pada anak semakin nyata. Anak mulai memiliki perspektif yang berbeda dengan orang lain yang berbeda di sekitarnya. Orangtua sering menganggap periode ini sebagai masa sulit karena anak menjadi susah diatur, bisa disebut nakal atau bandel, suka membantah dan banyak bertanya. Anak mengembangkan keterampilan berbahasa dan menggambar, namun egois dan tak dapat mengerti penalaran abstrak atau logika.
Hasil beberapa kajian lebih menunjukkan bahwa secara umum tujuan utama pendidikan pra-sekolah adalah untuk meningkatkan kesiapan sekolah yang lebih difokuskan pada berbagai ketrampilan daripada konten akademik. Wylie (1998) mengemukakan bahwa ada beberapa ketrampilan-ketrampilan krusial yang akan dibutuhkan anak selama perjalanan pendidikannya mulai dari sekolah dasar dan seterusnya, diantaranya yaitu: ketrampilan menyimak dan mendengarkan, ketrampilan akademik, ketrampilan bekerja secara mandiri dan secara kelompok, serta ketrampilan berkomunikasi.
Pendidikan pra sekolah adalah pendidikan yang diberikan kepada anak-anak balita sebelum masuk sekolah taman kanak-kanak atau pendidikan dasar pertama yaitu sekolah dasar (SD). Sistem pendidikan ini juga sering dinamakan dengan pendidikan usia dini atau PAUD. Sistem pendidikan pra sekolah ini pertama kali dikenal oleh masyarakat ketika mereka mulai menyadari arti pentingnya mendidik anak sejak dini. Sehingga penyelenggaraannya juga lebih sering dilakukan oleh masyarakat sendiri melalui berbagai macam organisasi seperti PKK atau Lembaga Swadaya Masyarakat lain yang bergerak di bidang pendidikan.
Adapun tujuan utama pendidikan pra-sekolah adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar, untuk mengembangkan tingkat kecerdasan dan mental baik secara fisik dan rohani, serta membentuk karakter anak agar bisa mengatur perasaan emosi serta punya jiwa sosial yang tinggi. Sehingga ketika mereka masuk pada tingkat pendidikan dasar pertama, anak-anak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan lebih mandiri.
Pada usia ini  anak belum bisa membedakan yang mana informasi yang baik dan yang tidak baik bagi mereka. Dan yang tidak boleh dilupakan, anak-anak ini ketika melakukan pengamatan tidak terbatas pada lingkup keluarganya saja, namun sudah mulai merambah pada lingkungan luar rumah. Dari sini sistem pendidikan pra sekolah untuk mendidik anak sejak dini yang diadakan akan punya peran yang penting. Pelajaran yang diberikan pada sistem pendidikan pra sekolah tidak hanya melalui perkataan saja, namun justru lebih mementingkan pada bentuk-bentuk permainan edukatif dan kandungan moral yang tinggi. Jadi anak tidak akan merasa terbebani dan tetap bisa melewati masa kanak-kanaknya yang penuh kegembiraan bersama teman-teman sebayanya.

 
 
Psikologi sekolah adalah bidang yang menerapkan prinsip-prinsip psikologi klinis dan juga psikologi pendidikan dalam penerapannya. Psikologi sekolah itu sendiri menitik beratkan peran dalam menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik yang berhubungan langsung dengan seluruh aspek kegiatannya.
Psikolog sekolah mempunyai wewenang dalam melakukan penilaian psikologis dan juga memberikan pelayanan bimbingan dan konseling pada anak dan keluarganya. Jadi dengan kata lain psikolog sekolah bukan hanya memberikan layanan pada anak yang bersangkutan tetapi pada keluarganya yang tidak lain dan tidak bukan adalah bagian yang paling berperan dan mempengaruhi kelangsungan hidup dan pola pendidikan sang anak. Psikolog sekolah mempunyai tujuan utama dalam penerpan prinsip-prinsip ilmiah belajar dan perilaku untuk memperbaiki sekolah terkait dengan masalah dan juga untuk memfasilitasi pembelajaran dan pengembangan anak-anak di sekolah.
Mungkin sebagian dari kita masih bingung sehingga akan muncul pertanyan, lalu apakah psikologi pendidikan dan sekolah itu berbeda? Dan di mana letak perbedaannya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebelumnya kita harus mengetahui definisi dari psikologi pendidikan terlebih dahulu.
Psikologi pendidikan adalah bidang psikologi yang lebih berfokus dalam sistem belajar-mengajar dan melakukan penelitian yang berhubungan dengan permasalahn tersebut seperti penelitian tentang dinamika kelas dan gaya belajar-mengajar. Psikolog pendidikan tidak dapat membantu siswa satu per satu seperti halnya psikolog sekolah. Namun, psikolog pendidikan dapat membantu dalam hal mendiagnosis dan memberikan alat untuk mengobati.
Untuk dapat lebih memahami perbedaan antara psikolog sekolah dan psikolog pendidikan ada baiknya kita membahas tentang peran dari masing-masing bidang, yaitu psikologi sekolah dan psikologi pendidikan. Pertama-tama kita bisa membahas peran dari psikolog sekolah terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan peran dari psikolog pendidikan.
Ada beberapa peran dari seorang psikolog sekolah, diantaranya adalah mengkomunikasikan hasil evaluasi psikologis untuk orangtua, guru, dan lainnya sehingga mereka dapat memahami kesulitan peserta didik dan dapat mengetahui solusi atas permasalahannya tersebut. Kemudian, seorang psikolog sekolah juga mempunyai peran dalam melakukan penelitian tentang instruksi yang efektif, manajemen perilaku, dan interverensi kesehatan mental siswa. Psikolog sekolah juga berperan dalan hal menilai dan mengevaluasiberbagai masalah yang berkaitan dengan sekolah dan juga peserta didik yang berada di sekolah tersebut.
Selanjutnya, kita akan membahas mengenai beberapa peran seorang psikolog pendidikan, yaitu diantaranya mempunyai peran dalam penerapan prinsip-prinsip beajar dalam kelas dan juga berperan dalam menilai belajar serta kebutuhan emosional peserta didik dengan mengamatinya. Seorang psikolog pendidikan juga mempunyai peran yang tidak kalah penting lainnya, yaitu wewenang untuk merumuskan intervensi yang berfokus pada penerapan pengetahuan, keterampilan serta keahlian untuk mendukung inisiatif sekolah.  Psikolog pendidikan juga mempunyai peran dalam hal mengevaluasi program pendidikan, terutama dalam hal pengembangan serta pembaharuan kurikulum. Selain itu, peran dari seorang psikolog pendidikan adalah mengkonsultasikan skolah untuk melaksanakan pengajaran dan pengujian. Kemudiam seorang psikolog pendidikan juga mempunyai peran dalam mengumpulkan data, merevisi tes, dan kegiatan belajar kelas dalam upaya untuk meningkatkan gaya belajar-mengajar.
Jadi, secara garis beras perbedaan psikolog sekolah dan psikolog pendidikan ada dalam bidang apa yang harus digelutinya. Jika seorang psikolog sekolah cenderung berperan dalam melakukan kegiatan tes dan juga berperan dalam tugas bimbingan konseling sehingga dapat menciptakan suasana pendidikan yang baik bagi setiap anak. Psikolog sekolah cenderung lebih berperan secara menyeluruh, tidak menangani siswa secara satu per satu, dan juga lebih berperan dalam sistem belajar-menagajr di sekolah. Perlu di ketahui lebih lanjut bahwa memang banyak universitas di Indonesia yang menawarkan S2 psikologi pendidikan namun dalam penerapannya lebih cenderung mengarah kepada psikologi sekolah.

Pada posting-an saya kali ini, saya akan memaparkan tentang testimoni singkat yang berkenaan dengan mata kuliah psikologi pendidikan yang sudah berlangsung selama hampir setengah semester ini. Menurut saya pribadi, mata kuliah ini termasuk mata kuliah dengan tugas terbanyak (selama dua semester ini). Dari semua tugas yang diberikan, banyak sekali kesan dan pelajaran berharga yang saya dapatkan. Tugas favorit saya sejauh ini adalah mengobservasi keadaan kelas karena hal tersebut merupakan kali pertama saya dapat meninjau langsung ke lapangan selama tercatatat sebagai salah satu mahasiswi di kampus saya. Ya, kalian yang membaca ini pasti tahu bahwa bukan hanya kesan, pelajaran, dan sukanya saja yang saya rasakan, tetapi juga dukanya. Dari penjelasan saya sebelumnya, kalian pasti langsung memahami bahwa ini tidak semudah yang dibayangkan, karena sewaktu-waktu bukan hanya tugas dari mata kuliah psikologi pendidikan saja yang mendekati deadline, tetapi mata kuliah lain juga. Namun, sekarang saya mulai memahami bahwa inilah yang dinamakan dunia perkuliahan. Tidak apa-apa kita bersusah-susah dahulu, karena nanti kita yang akan memetik hasil dari kerja keras kita. Semoga dengan hal tersebut kita semua dapat terus semangat untuk berpacu mencapai kesuksesan. Aamiin.




Post saya kali ini merupakan hasil observasi kelompok 10 Psikologi Pendidikan Kelas A USU yang membahas tentang "Motivasi Belajar" yang disusun oleh saya beserta keenam rekan saya lainnya.
Ketua: Farel Andhika Fajar (161301067)
Anggota:
Fikri Dien (161301016)
Izdihar Afra (161301022)
Yuliasti (161301027)
Dinda Pramadi Putri (161301037)
Yusnita Tarigan (161301038)
Gita Clara Tinambunan (161301063)







Pada posting-an saya kali ini, saya akan mencoba membahas mengenai psikologi dan perkembangan pendidikan. Berikut adalah pembahasannya. Semoga bermanfaat :)


Sebelum memasuki inti pembahasan ada baiknya kita berkenalan lebih dahulu dengan teori-teori perkembangan yang berhubungan dengan materi ini beserta para tokoh yang mencetuskannya. Berikut ini adalah nama tokoh serta teori yang dikemukakannya:
1.    Jean Piaget mengemukakan teori perkembangan kognitif.
2.    Erik Erikson mengemukakan teori perkembangan psikososial.
3.    Lawrence Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral.

Pada pembahasan kali ini saya akan mencoba menjabarkan hubungan antara pendidikan dengan masa perkembangan anak (TK, SD, SMP, dan SMA) yang dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
1.    Masa Kanak-kanak Awal (Prasekolah atau Taman Kanak-kanak)
Tahap perkembangan pada masa TK kurang lebih sesuai dengan masa kanak-kanak awal yang berkisar antara usia 2-6 tahun. Pada fase ini, anak-anak mengalami empat macam masa yaitu, masa negativitis (trotzalter), masa bermain, masa eksplorasi, dan juga masa meniru. Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Jean Piaget, tahap kognitif pada masa ini berada pada tahap praoprasional di mana bersifat egosentris dan juga ada kemajuan dalam bahasa. Sedangkan pada teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg, masa ini berada pada tahap prakonvensional yang dibagi menjadi dua tahap: a) tahap 1 (2-4 tahun) orientasi hukuman dan b) tahap 2 (4-6 tahun) orientasi ganjaran. Dengan kata lain, anak-anak yang berada pada tahap 1 dapat diberikan hukuman apabila melakukan kesalahan karena mereka belum dapat membedakan dengan baik antara yang benar dan yang salah, sedangkan anak-anak yang berada pada tahap 2 dapat diberikan ganjaran (pujian) untuk setiap perbuatan baik yang mereka lakukan.
Dalam masa ini, penting sekali untuk melakukan penanaman moral, mengingat salah satu yang terjadi pada masa ini adalah adanya masa meniru. Hal lain yang juga penting adalah bahwa tidak memaksakan anak-anak pada masa ini untuk belajar karena masa ini adalah masanya bermain, tidak ada larangan untuk belajar terlebih jika dilakukan sambil bermain dan juga tidak adanya paksaan terhadap anak. Pada masa ini juga keingintahuan anak-anak meningkat sehingga mereka akan sering bertanya untuk mengetahui lebih banyak hal dan juga untuk memenuhi keingintahuannya. Maka dari itu, metode pendidikan yang tepat pada masa ini adalah belajar sambil bermain untuk mengasah kemampuan softskill-nya serta memberikan penjelasan mengenai keingintahuannya diiringi dengan penanaman moral yang tepat.
2.    Masa Kanak-kanak Akhir (Sekolah Dasar)
Tahap perkembangan pada masa SD kurang lebih sesuai dengan masa kanak-kanak akhir yang berkisar antara usia 6-12 (pra-pubertas) tahun. Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Jean Piaget, tahap kognitif pada masa ini berada pada tahap konkret oprasional di mana sang anak sudah mulai dapat berpikir logis, menguasai konversi, dan juga dapat mengklarifikasi objek. Menurut Erik Erikson pada teori perkembangan psikososialnya, anak-anak pada masa ini berada pada tahap industry vs inferiority. Sedangkan pada teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg, masa ini berada pada tahap konvensional yang dibagi menjadi dua tahap: a) tahap 3 orientasi “good boy or good girl” dan b) tahap 4 orientasi otoritas. Dengan kata lain, anak-anak yang berada pada tahap 3 dapat diberikan pujian dengan mengatakan bahwa mereka adalah anak yang baik apabila mereka sudah melakukan hal yang baik dan benar, sedangkan anak-anak yang berada pada tahap 4 perlu mendapatkan perintah yang tegas sehingga mereka dapat melakukan hal yang benar dengan sebaik-baiknya dan juga untuk melatih mereka agar mampu mengatur diri mereka sendiri di masa depan.
3.    Masa Remaja (Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Akhir)
Tahap perkembangan pada masa SMP sampai dengan SMA kurang lebih sesuai dengan masa remaja (adolescense) yang berkisar antara usia 12-18 tahun (terdapat perbedaan dalam hal usia; tergantung ahli yang mengatakannya). Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Jean Piaget, tahap kognitif pada masa ini berada pada tahap oprasional di mana sang anak sudah mulai dapat berpikir secara abstrak, visionis, dan juga kembali bersifat egosentris. Menurut Erik Erikson pada teori perkembangan psikososialnya, anak-anak pada masa ini berada pada tahap identity vs role confusion. Sedangkan pada teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg, masa ini berada pada tahap post-konvensional yang dibagi menjadi dua tahap: a) tahap 5 orientasi kontrak sosial dan b) tahap 6 orientasi asas etis. Perlu digarisbawahi bahwa tidak semua orang dapat menduduki tahap post-konvensional.

Sumber:
Santrock, J. W. 2006. Educational Psychology. 2nd Ed. New York: McGraw-Hill Company.
Pada posting-an saya kali ini, saya akan mencoba menjelaskan tentang belajar. Berikut adalah penjelasnnya. Semoga dapat bermanfaat :)
    Belajar merupakan perubahan perilaku yang relatif permanen yang dibentuk melalui pengalaman. Namun, perubahan perilaku karena obat, kelelahan, maturasi dan luka tidak dikatakan sebagai belajar. Pada pembahasan kali ini, saya akan membahas mengenai dua pendekatan pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1.    Pendekatan Behavioral
a.    Classical Conditioning
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Ivan Pavlov, seorang psikolog yang berasal dari Rusia, pada awal 1900-an. Dalam prosesnya mendapatkan teori ini, ia menggunakan anjing sebagai partisipannya. Ia akan meletakkan semangkuk makanan dihadapan anjing tersebut secara rutin dan sesuai yang sudah kita ketahui, anjing tersebut akan mengeluarkan air liurnya secara alami. Kemudian yang dilakukan olehnya selanjutnya adalah memasangkan makanan dengan bel. Sehingga bel tersebut menjadi tanda bahwa makanannya akan segera datang. Hal ini pun dilakukan secara rutin dalam waktu tertentu. Pada akhirnya, anjing tersebut akan segera mengeluarkan air liur secara alami waluapun tanpa ada kehadiran makanannya.
Dari eksperimen di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa belajar menurut teori classical conditioning adalah suatu bentuk di mana stimulus netral yang berupa conditioned stimulus (CS) dipasangkan dengan unconditioned stimulus (UCS) untuk dapat mengubah unconditioned response (UCR) menjadi conditioned response (CR) hanya karena adanya CS. Di mana—dalam eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov tersebut—UCS-nya adalah makanan, UCR-nya adalah mengeluarkan air liur ketika melihat makanan, CS-nya adalah suara bel, sedangkan UCS-nya adalah mengeluarkan air liur karena mendengar suara bel.
Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah elemen kunci dari classical conditioning itu sendiri, yaitu asosiasi dari dua stimulus. Dan ya, dua hal penting yang berkaitan dengan pembentukan asosiasi adalah frekuensi dan timing.
Salah satu peran dari classical conditioning adalah delam memahami kasus phobia dan juga rasa takut. Classical conditioning ini dapat dihilangkan dengan counter conditioning.

b.    Operant Conditioning
Operant Conditioning dikenal juga sebagai belajar konsekuensi. Hal tersebut sesuai dengan apa yang terdapat pada teori tersebut. Ada dua tokoh terkenal yang melakukan eksperimen untuk membuktikan kebenaran teori ini, yaitu B. F. Skinner sebagai yang merancang teori ini dan juga E. L. Thorndike sebagai tokoh yang mendasari pemikiran di dalam memahami teori ini.
Eksperimen yang dilakukan E. L. Thorndike dikenal dengan “Hukum Efek Thorndike” terlebih dahulu. Pada eksperimen yang dilakukannya ini, ia menggunakan kucing sebagai partisipannya. Yang ingin dilihatnya dari eksperimen ini adalah bagaimana cara kucing menyadari kondisi di sekitarnya untuk dapat mengambil ikan di luar kandangnya. Kandang tersebut memiliki sebuah tombol khusus yang apabila ditekan akan membuka pintu kandang tersebut sehingga kucing dapat keluar dan mengambil ikan yang diinginkannya. Pada awalnya, kucing tersebut mencoba segala cara untuk dapat membuka pintu kandang, misalnya dengan mencakar dan mengigit besi kandang tersebut. Sampai pada akhirnya, ia secara tidak sengaja menekan tombol tersebut dan dengan segera keluar dari kandang serta mengambil ikannya. Pada percobaan kedua, kucing tersebut masih melakukan hal yang sama, ia melakukan gerakan-gerakan acak dan pada akhirnya menekan tombol tersebut. Begitu seterusnya sampai ia dapat langsung menekan tombol tersebut untuk membuka pintu. Dengan kata lain, hukum efek Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil yang positif akan diperkuat dan perilaku yang diikuti dengan hasil yang negatif akan diperlemah.
Dari eksperimen di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa belajar menurut teori operant conditioning adalah di mana konsekuensi dari perilaku mengarahkan kita pada perubahan probabilitas terjadinya perilaku. Di dalam teori operant conditioning terdapat tiga macam bentuk konsekuensi yang mempengaruhi perilaku, yaitu
a.    Penguatan positif, yaitu penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding).
b.    Penguatan negatif, yaitu penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan atau tidak menyenangkan.
c.    Hukuman, yaitu konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

2.    Pendekatan Kognitif Sosial
Salah satu perncang teori kognitif sosial adalah Albert Bandura. Pengertian belajar menurut teori kognitif sosial adalah suatu proses internal atau mental aktif untuk memperoleh, mengingat, dan menggunakan suatu pengetahuan. Outcome dari proses belajar itu sendiri adalah pengetahuan sebagai elemen yang paling dasar dan mengetahui.
Teori yang dikemukakan oleh Albert Bandura dalam pendekatan kognitif sosial adalah pembelajaran observasional yang juga dinamakan imitasi atau modeling yaitu, pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain. Model pembelajaran observasional kontemporer Bandura ini memfokuskan pada proses spesifik yang terlibat di dalamnya, yaitu atensi (perhatian), retensi (mengodekan informasi dan menyimpannya dalam memori), produksi, dan motivasi.


Sumber:
Santrock, J. W. 2006. Educational Psychology. 2nd Ed. New York: McGraw-Hill Company.

Pada posting-an saya kali ini, saya akan mencoba me-review mengenai psikologi pendidikan dan ruang lingkupnya. Semoga dapat bermanfaat :)
    Bidang psikologi pendidikan pertama kali dikenal sebelum abad ke-20, ada empat perintis yang mendirikannya, yaitu sebagai berikut:
1.    William James
Rekomendasinya dalam bidang psikologi pendidikan adalah mengajar pada titik sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak.
2.    John Dewey
Ada tiga pandangan penting di dalam psikologi pendidikan, yaitu: a) anak sebagai pembelajar aktif, b) pendidikan berfokus pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan adaptasi anak dengan lingkungan, serta c) semua anak berhak mendapatkan pendidikan selayaknya.
3.    Edward Lee Thorndike
Gagasannya dalam bidang ini, yaitu bahwa bidang psikologi pendidikan harus mempunyai basis ilmiah dan fokus pada pengukuran.
4.    Burrhus Frederic Skinner
Di dalam bidang psikologi pendidikan, ia mencetuskan suatu pendekatan behavioral, yaitu operant conditioning. Operant conditioning menyatakan bahwa konsekuensi perilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan terjadi, di mana konsekuensi (reinforcement-punishment) bersifat sementara pada perilaku organisme.

Di dalam psikologi pendidikan, terdapat pembahasan mengenai cara mengajar yang efektif. Cara mengajar yang efektif tidaklah bersifat tunggal (dapat digunakan untuk semua hal) karena mengajar itu sendiri adalah suatu hal yang kompleks dan juga karena para peserta didik yang bervariasi. Berikut adalah dua hal utama yang dibutuhkan untuk dapat mengajar dengan cara yang efektif: a) pengetahuan dan keahlian profesional (yang meliputi penguasaan materi pelajaran, strategi pengajaran, penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional, keahlian manajemen kelas, keahlian motivasional, keahlian komunikasi, bekerja secara efektif dengan murid dari latar belakang kultural yang berlainan, serta keahlian teknologi), dan b) komitmen dan motivasi.
Di dalam psikologi pendidikan itu sendiri terdapat riset. Nah, pertanyaannya sekarang adalah “apakah riset itu penting?”. Untuk menjawab hal tersebut, terlebih dahulu kita harus mengetahui tujuan dari riset, yaitu untuk memahami strategi mengajar dari informasi yang di dapat. Dengan informasi yang valid dari riset ini kita dapat menjadi seorang pengajar yang lebih baik lagi ke depannya. Mungkin kebanyakan dari kita ada yang mengatakan bahwa tanpa riset pun kita dapat mengetahui bagaimana cara mengajar yang tepat yaitu dengan melakukan pengamatan dari pengalaman pribadi kita. Namun, kita sendiri pun tidak bisa menyangkal bahwa kita sendiri bahkan tidak mengetahui seberapa validkah hasil pengamatan kita karena kita tahu bahwa persepsi dari masing-masing individu dapat mempengaruhi hasil pengamatan tersebut. Berbeda individu, berbeda persepsi, berbeda pula kesimpulan akhir yang didapat. Bahkan seorang ahli atau pakar sekalipun dapat mengemukakan pemahan yang berbeda. Maka dari itu, para ahli akan mengadakan riset ilmiah yang pastinya menggunakan pendekatan ilmiah yang dimaksudkan—dalam hal ini di bidang psikologi pendidikan—untuk memilah antara fakta dan khayalan dengan menggunakan cara tertentu untuk mendapatkan informasi (Best & Kahn, 2003; Johnson & Christensen, 2009). Sedangkan, riset ilmiah adalah riset yang objektif, sistematis, dan dapat diuji. Riset ilmiah itu sendiri dilandaskan pada metode ilmiah yaitu, sebuah pendekatan yang dapat dipakai untuk menemukan informasi yang akurat dan terdiri dari beberapa langkah: a) merumuskan masalah, b) mengumpulkan data, c) menarik kesimpulan, dan d) merevisi kesimpulan dan terori riset.
Di dalam psikologi pendidikan terdapat tiga metode dasar yang dipakai untuk mengumpulkan informasi, yaitu:
1.  Riset deskriptif, yaitu bertujuan untuk mengamati dan mencatat perilaku yang dapat mengungkapkan informasi pentig tentang perilaku dan sikap seseorang. Riset deskriptif ini dibagi-bagi lagi menjadi beberapa metode, diantaranya adalah observasi, wawancara dan kuesioner, tes standar, studi kasus, serta studi etnografik.
2.  Riset korelasional, yaitu bertujuan untuk mendeskripksikan kekuatan hubungan antara dua atau lebih kejadian atau karakteristik.
3. Riset eksperimental, yaitu bertujuan untuk menentukan sebab-sebab perilaku dengan melakukan eksperimen.

Sumber:
Santrock, J. W. 2006. Educational Psychology. 2nd Ed. New York: McGraw-Hill Company.
Ya, kembali lagi bersama saya dan teman-teman saya yang tergabung di dalam kelompok 10. Pada post kali ini, kami akan mencoba untuk membahas salah satu topik Psikologi Pendidikan dengan judul "Implikasi Pendidikan terhadap Perkembangan". Berikut adalah nama-nama dari anggota kelompok 10:

Fikri Dien (161301016)

Izdihar Afra (161301022)

Yuliasti (161301027)


Yusnita Tarigan (161301038)




Tahap perkembangan TK (Taman Kanak-Kanak)
Tahap perkembangan pada masa TK kurang lebih sesuai dengan masa kanak-kanak awal yang berkisar antara usia 2-6 tahun. Pada fase ini, anak-anak mengalami empat macam masa yaitu, masa negativitis (trotzalter), masa bermain, masa eksplorasi, dan juga masa meniru. Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Jean Piaget, tahap kognitif pada masa ini berada pada tahap praoprasional di mana bersifat egosentris dan juga ada kemajuan dalam bahasa. Sedangkan pada teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg, masa ini berada pada tahap prakonvensional yang dibagi menjadi dua tahap: a) tahap 1 (2-4 tahun) orientasi hukuman dan b) tahap 2 (4-6 tahun) orientasi ganjaran. Dengan kata lain, anak-anak yang berada pada tahap 1 dapat diberikan hukuman apabila melakukan kesalahan karena mereka belum dapat membedakan dengan baik antara yang benar dan yang salah, sedangkan anak-anak yang berada pada tahap 2 dapat diberikan ganjaran (pujian) untuk setiap perbuatan baik yang mereka lakukan.
Dalam masa ini, penting sekali untuk melakukan penanaman moral, mengingat salah satu yang terjadi pada masa ini adalah adanya masa meniru. Hal lain yang juga penting adalah bahwa tidak memaksakan anak-anak pada masa ini untuk belajar karena masa ini adalah masanya bermain, tidak ada larangan untuk belajar terlebih jika dilakukan sambil bermain dan juga tidak adanya paksaan terhadap anak. Pada masa ini juga keingintahuan anak-anak meningkat sehingga mereka akan sering bertanya untuk mengetahui lebih banyak hal dan juga untuk memenuhi keingintahuannya. Maka dari itu, metode pendidikan yang tepat pada masa ini adalah belajar sambil bermain untuk mengasah kemampuan softskill-nya serta memberikan penjelasan mengenai keingintahuannya diiringi dengan penanaman moral yang tepat.
Contoh:
a. Beberapa taman kanak-kanak yang berbasis “sekolah alam dan sains” mengajak para peserta didiknya untuk mengekplorasi alam dan juga meningkatkan keberanian serta kekompakan mereka dengan adanya kegiatan outbound yang menjadi salah satu kegiatan wajib di sekolah mereka tersebut.
b. Sebuah taman kanak-kanak mengajarkan pada muridnya berhitung dengan cara bernyanyi sambil bermain dengan harapan anak tersebut bisa meningkatkan kemampuan berhitung dengan baik dan lebih cepat.

Tahap perkembangan SD (Sekolah Dasar)     
Siswa SD adalah mereka yang usianya masih sekitar 6-11 tahunan, usia yang senang-senangnya bermain. Jelas ini membuat para guru SD harus kerja lebih keras dalam menerapkan berbagai strategi belajar.
Dalam belajar siswa SD terkadang mengalami kesulitan dalam mengingat sesuatu. Ditambah lagi jika materinya banyak, pasti lebih sulit lagi. Nah disinilah guru harus memberikan sebuah langkah jitu untuk mengatasi itu semua. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan metode "Chunking". Metode chunking adalah metode yang memudahkan siswa dalam mengingat sesuatu.
Contoh dari penggunaan metode ini, misalkan siswa di suruh mengingat sederet kata: Sapi, Rumput, Lapangan, Tennis, Air, Anjing, Danau. Dalam hal ini siswa bisa mempergunakan metode chungking untuk mengingat kata tersebut, menjadi : "SAPI terlihat makan RUMPUT disamping LAPANGAN TENNIS. Setelah itu ia meminum AIR yang tidak jauh dari ANJING yang sedang memandang DANAU di sebrang."
Salah satu cara belajar yang juga bisa digunakan untuk siswa SD adalah dengan metode mengembangkan brainstorming. Brainstorming adalah teknik di mana orang-orang dalam sebuah kelompok didorong untuk menghasilkan ide kreatif, saling bertukar gagasan, dan mengatakan apa saja yang ada di pikiran mereka yang tampaknya relevan dengan isu tertentu. Cara ini dapat dilakukan oleh sang guru dengan melontarkan sebuah pertanyaan atau suatu isu sehingga membiarkan siswa SD mengeluarkan pendapatnya semaksimal mungkin, walaupun pendapat yang dilontarkan bisa menjadi hal yang tidak masuk akal. Hal ini dilakukan agar siswa SD berani dalam mengeluarkan apa yang dipikirkannya.

Tahap perkembangan SMP (Sekolah Menengah Pertama)
Pada tahap perkembangan SMP (Sekolah Menengah Pertama) merupakan masa remaja (Adolescence) yang dimulai dari usia 11/12 tahun – 18/24 tahun. Pada tahap ini perkembangan emosional yang tidak stabil, berubah-ubah, dan cenderung meledak-ledak serta perkembangan kognitif yaitu pada tahap operasional formal di mana masih memiliki pola berpikir cenderung egosentris yaitu berpikir mengenai suatu hal menurut pandangannya sendiri. Pada tahap ini cara belajar yang tepat diberikan pada anak SMP ialah belajar sambil berdiskusi dalam kelompok. Dengan berdiskusi berarti ia harus mendengarkan dan menerima pendapat serta saran dari orang lain sehingga melatih diri untuk menahan emosional yang tidak stabil tersebut serta mendengarkan pandangan atau pendapat dari orang lain mengenai suatu hal. Maka, belajar sambil berdiskusi dalam kelompok ialah cara belajar yang tepat pada tahap perkembangan SMP (Sekolah Menengah Pertama).
Anak usia smp merupakan anak-anak pada usia peralihan kanak-kanak dan dewasa. Disebut masa remaja.  Pada masa ini anak akan mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan fisiknya dan psikisnya, sehingga proses belajar yang tepat digunakan iyalah  menumbuhkan sikap disiplin anak,  misalnya dengan memberikan hukuman pada anak yang tidak mengerjakan tugas,  hal tersebut akan membuat anak malu, mengingat masa ini adalah masa perkembangannya maka sang anak akan mulai merasa tertarik kepada lawan jenisnya, hal tersebut dapat menjadi motivasi pada anak untuk selalu tampil lebig baik. Proses belajar lainnya juga dapat di padukan dengan lingkungan. Mereka akan lebih memahami pelajaran bila pelajaran terjebut dipadukan dengan hal-hal yang menyanangkan. Misalnya belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya, membawanya ketempat-tempat yg nyaman atau sesuai dengan pembelajaran.

Tahap perkembangan SMA (Sekolah Menengah Atas)
Pada masa SMA antara usia 15-18 tahun yaitu masa remaja, mereka mulai mencari identitas mereka. Pada masa ini, remaja mampu memahami dan mengkaji konsep-konsep abstrak dalam batas-batas tertentu. Kecenderungan-kecenderungan remaja untuk melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak tergali, guru dapat membantu mereka dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses dengan memberi penekanan pada penguasaan konsep-konsep abstrak. Karena siswa pada usia remaja ini masih dalam proses penyempurnaan penalaran, guru hendaknya tidak menganggap bahwa mereka berpikir dengan cara yang sama dengan guru. Cara yang baik dalam mengatasi bentuk-bentuk pemikiran yang belum matang ialah membantuk siswa menyadari bahwa mereka telah melupakan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Namun,bila permasalahan tersebut merupakan masalah kompleks dengan bobot emosi yang cukup dalam, hal itu bukan tugas yang mudah.
Kelompok belajar terdiri dari siswa-siswa yang memiliki variasi bahasa yang berbeda-beda baik kemampuan maupun polanya. Sehubungan dengan itu, dalam mengembangkan strategi belajar mengajar di bidang bahasa, guru perlu memfokuskan pada kemampuan dan keragaman bahasa anak. Anak diminta untuk melakukan pengulangan pelajaran yang telah diberikan dengan kata-kata yang disusun sendiri. Dengan cara ini, guru dapat melakukan identifikasi tentang pola dan tingkat kemampuan bahasa mereka. Kalimat atau cerita anak tentang isi pelajaran perlu diperkaya dan diperluas oleh guru agar mereka mampu menyusun cerita yang lebih komprehensif tentang isi bacaan yang telah dipelajari dengan menggunakan pola bahasa mereka sendiri.