Resume II: Learning

Pada posting-an saya kali ini, saya akan mencoba menjelaskan tentang belajar. Berikut adalah penjelasnnya. Semoga dapat bermanfaat :)
    Belajar merupakan perubahan perilaku yang relatif permanen yang dibentuk melalui pengalaman. Namun, perubahan perilaku karena obat, kelelahan, maturasi dan luka tidak dikatakan sebagai belajar. Pada pembahasan kali ini, saya akan membahas mengenai dua pendekatan pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1.    Pendekatan Behavioral
a.    Classical Conditioning
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Ivan Pavlov, seorang psikolog yang berasal dari Rusia, pada awal 1900-an. Dalam prosesnya mendapatkan teori ini, ia menggunakan anjing sebagai partisipannya. Ia akan meletakkan semangkuk makanan dihadapan anjing tersebut secara rutin dan sesuai yang sudah kita ketahui, anjing tersebut akan mengeluarkan air liurnya secara alami. Kemudian yang dilakukan olehnya selanjutnya adalah memasangkan makanan dengan bel. Sehingga bel tersebut menjadi tanda bahwa makanannya akan segera datang. Hal ini pun dilakukan secara rutin dalam waktu tertentu. Pada akhirnya, anjing tersebut akan segera mengeluarkan air liur secara alami waluapun tanpa ada kehadiran makanannya.
Dari eksperimen di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa belajar menurut teori classical conditioning adalah suatu bentuk di mana stimulus netral yang berupa conditioned stimulus (CS) dipasangkan dengan unconditioned stimulus (UCS) untuk dapat mengubah unconditioned response (UCR) menjadi conditioned response (CR) hanya karena adanya CS. Di mana—dalam eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov tersebut—UCS-nya adalah makanan, UCR-nya adalah mengeluarkan air liur ketika melihat makanan, CS-nya adalah suara bel, sedangkan UCS-nya adalah mengeluarkan air liur karena mendengar suara bel.
Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah elemen kunci dari classical conditioning itu sendiri, yaitu asosiasi dari dua stimulus. Dan ya, dua hal penting yang berkaitan dengan pembentukan asosiasi adalah frekuensi dan timing.
Salah satu peran dari classical conditioning adalah delam memahami kasus phobia dan juga rasa takut. Classical conditioning ini dapat dihilangkan dengan counter conditioning.

b.    Operant Conditioning
Operant Conditioning dikenal juga sebagai belajar konsekuensi. Hal tersebut sesuai dengan apa yang terdapat pada teori tersebut. Ada dua tokoh terkenal yang melakukan eksperimen untuk membuktikan kebenaran teori ini, yaitu B. F. Skinner sebagai yang merancang teori ini dan juga E. L. Thorndike sebagai tokoh yang mendasari pemikiran di dalam memahami teori ini.
Eksperimen yang dilakukan E. L. Thorndike dikenal dengan “Hukum Efek Thorndike” terlebih dahulu. Pada eksperimen yang dilakukannya ini, ia menggunakan kucing sebagai partisipannya. Yang ingin dilihatnya dari eksperimen ini adalah bagaimana cara kucing menyadari kondisi di sekitarnya untuk dapat mengambil ikan di luar kandangnya. Kandang tersebut memiliki sebuah tombol khusus yang apabila ditekan akan membuka pintu kandang tersebut sehingga kucing dapat keluar dan mengambil ikan yang diinginkannya. Pada awalnya, kucing tersebut mencoba segala cara untuk dapat membuka pintu kandang, misalnya dengan mencakar dan mengigit besi kandang tersebut. Sampai pada akhirnya, ia secara tidak sengaja menekan tombol tersebut dan dengan segera keluar dari kandang serta mengambil ikannya. Pada percobaan kedua, kucing tersebut masih melakukan hal yang sama, ia melakukan gerakan-gerakan acak dan pada akhirnya menekan tombol tersebut. Begitu seterusnya sampai ia dapat langsung menekan tombol tersebut untuk membuka pintu. Dengan kata lain, hukum efek Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil yang positif akan diperkuat dan perilaku yang diikuti dengan hasil yang negatif akan diperlemah.
Dari eksperimen di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa belajar menurut teori operant conditioning adalah di mana konsekuensi dari perilaku mengarahkan kita pada perubahan probabilitas terjadinya perilaku. Di dalam teori operant conditioning terdapat tiga macam bentuk konsekuensi yang mempengaruhi perilaku, yaitu
a.    Penguatan positif, yaitu penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding).
b.    Penguatan negatif, yaitu penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan atau tidak menyenangkan.
c.    Hukuman, yaitu konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

2.    Pendekatan Kognitif Sosial
Salah satu perncang teori kognitif sosial adalah Albert Bandura. Pengertian belajar menurut teori kognitif sosial adalah suatu proses internal atau mental aktif untuk memperoleh, mengingat, dan menggunakan suatu pengetahuan. Outcome dari proses belajar itu sendiri adalah pengetahuan sebagai elemen yang paling dasar dan mengetahui.
Teori yang dikemukakan oleh Albert Bandura dalam pendekatan kognitif sosial adalah pembelajaran observasional yang juga dinamakan imitasi atau modeling yaitu, pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain. Model pembelajaran observasional kontemporer Bandura ini memfokuskan pada proses spesifik yang terlibat di dalamnya, yaitu atensi (perhatian), retensi (mengodekan informasi dan menyimpannya dalam memori), produksi, dan motivasi.


Sumber:
Santrock, J. W. 2006. Educational Psychology. 2nd Ed. New York: McGraw-Hill Company.

1 komentar: